“ kontak
fisik indonesia dengan sekutu dan belanda“
Disusun oleh : Azmi
1. Sejarah
Pertempuran Medan Area
Pertempuran
Medan Area merupakan salah satu dari rangkaian pertempuran di Indonesia yang
terjadi setelah Indonesia merdeka. Pertempuran ini berlangsung dari tanggal 13
Oktober 1945 dan seharusnya terjadi gencatan senjata pada tanggal 3 November
1946. Pada tanggal 15 November, pendudukkan Inggris atas Indonesia diserahkan
sepenuhnya kepada Belanda secara resmi, dan tak butuh waktu lama untuk Belanda
melanggar gencatan senjata yang sudah ditentukan karena pada tanggal 21
November, Belanda sudah mulai melakukan perampasan akan harta-harta milik
penduduk dan menembaki pos pasukan di Stasiun Mabar dan Padang Bulan keesokan
harinya. Perang yang terjadi ini merupakan perang antara rakyat Indonesia di
Sumatera Barat melawan tentara Inggris dan Sekutu.
Sepuluh hari setelah memproklamirkan kemerdekaan di Jakarta, baru pada tanggal 27 Agustus 1945, Medan mendengarkan secara langsung proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Muhammad Hasan yang saat itu ditunjuk sebagai gubernur Sumatera pada kabinet presidensial milik Soekarno. Untuk merespon berita proklamasi ini, Ahmad Tahir kemudian membentuk Pemuda Indonesia. Pada tanggal 29 September, koran Medan yang bernama “Pewarta Deli” memberi kabar bahwa Republik Indonesia telah runtuh, dan mengikuti pemberitaan ini, nasionalis lokal kemudian mengadakan sebuah pertemuan dimana T.M. Hassan menyatakan bahwa berita ini bohong. Hal ini disusul dengan sebuah pidato oleh Abdoel’karim M.S. yang membuat orang-orang yang hadir menjadi bersemangat. Pada saat ini, tidak ada yang menyangka bahwa akan terjadi sebuah perang yang tercatat sebagai sejarah pertempuran Medan Area di buku sejarahanak cucu mereka.
Pada tanggal 7 Oktober 1945, Presiden
Soekarno membubarkan Badan Keamanan Rakyat. Dua hari setelah itu, Presiden Soekarno
memerintahkan pembentukan sebuah badan baru yang mampu membantu pengamanan
daerah Sumatera, sehingga dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat yang merupakan
hasil peningkatan fungsi BKR sebelumnya, dan tentara-tentara inti dalam TKR ini
juga adalah bekas prajurit-prajurit PETA. Hal ini disebabkan karena Soekarno
mulai merasa bahwa daerah Indonesia agak sedikit tidak aman, terlebih dengan
kedatangan lagi tentara Sekutu setelah Jepang menyerah.
Prediksi Soekarno tepat, dimana pada
tanggal 10 Oktober 1945 tentara Sekutu brigade-4 Divisi India ke-26 mendarat di
Sumatera Utara dengan Jenderal T. E. D. Kelly sebagai pemimpin mereka. Hal ini
menjadi coretan pertama dalam sejarah pertempuran Medan Area, dan
seperti di tempat lain, kedatangan Kelly juga bersamaan dengan pasukan
Netherlands-Indies Civil Administration (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda,
disingkat NICA). Begitu para tentara Sekutu ini tiba, mereka disambut oleh
pemerintah provinsi Sumatera Utara yang membolehkan mereka untuk berlama-lama
di beberapa hotel Medan yang sudah disiapkan yang antara lain adalah Hotel de
Boer, Astoria, dan Gedung NHM. Kelly menyatakan bahwa tujuannya datang ke
Indonesia adalah untuk mengambil kembali tawanan dari kamp-kamp yang ada dan
memulangkan mereka.
Esoknya, tim Relief of Allied Prisoners
of War and Interness (RAPWI) mulai bekerja dan mendatangi beberapa kamp tawanan
untuk membawa mereka ke Medan. Hal ini tentu saja disetujui oleh Teuku Muhammad
Hasan yang saat itu adalah Gubernur Sumatera, karena tujuannya baik. Meski telah
mendapat kepercayaan, tentara Inggris nampaknya tidak bisa menjaga kepercayaan
dengan baik, sehingga mereka malah mempersenjatai tentara-tentara yang baru
saja dibebaskan, dan membentuk Medan Batalyon Koninklijk Nederlands-Indische
Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda, disingkat KNIL) dimana pasukan KNIL ini
terdiri dari bekas tawanan yang tadi dipersenjatai.
Awalnya, rakyat masih bisa bersabar
terhadap sifat arogan yang ditunjukkan oleh anggota KNIL. Hal ini bisa mereka
pahami, karena para anggota KNIL tadinya sempat ditawan dan kini diberikan
senjata, membuat diri mereka merasa menjadi lebih kuat. Namun amarah para
pejuang tak lagi bisa terbendung ketika pada 13 Oktober 1945, satu tentara NICA
merampas lencana Merah Putih dan menginjak-injaknya ditanah. Hal ini menjadi
bensin bagi api yang masih membara di jiwa para prajurit, menuntun kepada
dimulainya sejarah
pertempuran Medan Area. Lima hari setelah insiden lencana yang seakan memprovokasi, Kelly
mengeluarkan sebuah ultimatum yang melarang bangsa Indonesia membawa senjata,
dan senjata-senjata yang sudah dimiliki harus diserahkan kepada tentara sekutu,
dan hal ini juga berlaku untuk komandan pasukan Jepang yang saat itu masih
berada di Indonesia agar mereka tak bisa meminjamkan atau memberikan senjata
mereka pada TKR.
Sebenarnya yang menjadi pemicu utama
perang mulai pecah adalah tragedi lencana pada tanggal 13 Oktober. Seusai
penginjak-injakkan lencana, tentara yang merampas lencana itu segera diserang
dengan berbagai senjata yang sedang dipegang oleh tentara pemuda. Peristiwa
tadi menyebabkan meninggalnya opsir dan 7 serdadu NICA. Pada 16 Oktober, salah
satu pemimpin Laskar Rakyat menyerang gudang persenjataan Jepang demi memperkuat tenaga api
mereka sendiri. Setelah berhasil, serangan dilanjutkan dengan markas Belanda di
Glugur Hong dan Halvetia yang menjadi sasara berikutnya. Serangan malam ini
berhasil mengambil nyawa 5 orang tentara KNIL.
Setelah pemindahan lokasi
pemerintahan menjadi ke Pematan Siantar, Pertempuran Medan Area terus berlanjut
bahkan hingga akhir bulan Juli 1946. Pada 3 November, pihak Inggris mengusulkan
untuk mengadakan gencatan senjata dan pada tanggl 15 November memberikan
kontrol penuh kepada pihak Belanda untuk melanjutkan pendudukkan. Tak butuh
waktu lama bagi Belanda untuk melanggar gencatan senjata, dan lanjut merampas
harta-harta milik warga. Hal ini terus berlanjut hingga pada 1 Desember,
Belanda meminta penghentian tembak-menembak karena mulai terdesak. Karena tahu
akan kalah, Belanda mulai menggunakan segala taktik curang yang bisa mereka
gunakan. Melihat hal ini dan untuk mencegah adanya konflik yang lebih luas,
Soekarno memerintahkan penggabungan pasukan bersenjata kedalam Tentara Nasional
Indonesia pada 3 Mei 1947.
2.
Sejarah pertempuran
ambarawa
Pertempuran Ambarawa pada tanggal 20 November berakhir tanggal 15 Desember 1945, antara pasukan TKR melawan pasukan inggris. Ambarawa merupakan kota yang terletak antara kota Semarang dan magelang, serta Semarang dan Salatiga. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Sekutu dari Divisi India ke-23 di Semarang pada tanggal 20 oktober 1945. Pemerintah Indonesia memperkenankan mereka untuk mengurus tawanan perang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang.
Kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) diikuti oleh pasukan NICA. Mereka mempersenjatai para bekas tawanan perang Eropa, sehingga pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadi insiden di Magelang yang kemudian terjadi pertempuran antara pasukan TKR dengan pasukan Sekutu. Insiden berakhir setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945. Mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang dituangkan da1am 12 pasal. Naskah persetujuan itu berisi antara lain:
Pertempuran Ambarawa pada tanggal 20 November berakhir tanggal 15 Desember 1945, antara pasukan TKR melawan pasukan inggris. Ambarawa merupakan kota yang terletak antara kota Semarang dan magelang, serta Semarang dan Salatiga. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Sekutu dari Divisi India ke-23 di Semarang pada tanggal 20 oktober 1945. Pemerintah Indonesia memperkenankan mereka untuk mengurus tawanan perang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang.
Kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) diikuti oleh pasukan NICA. Mereka mempersenjatai para bekas tawanan perang Eropa, sehingga pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadi insiden di Magelang yang kemudian terjadi pertempuran antara pasukan TKR dengan pasukan Sekutu. Insiden berakhir setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945. Mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang dituangkan da1am 12 pasal. Naskah persetujuan itu berisi antara lain:
- Pihak
Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan
kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan
pasukan Jepang (RAPWI) dan Palang Merah (Red Cross) yang menjadi bagian
dari pasukan Inggris. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai dengan
tugasnya.
- Jalan raya
Ambarawa dan Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan
Sekutu.
- Sekutu
tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan-badan yang ada di bawahnya.
Pihak Sekutu temyata mengingkari janjinya. Pada tanggal 20 November 1945 dipertempuran Ambarawa pecah pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945, pasukan Sekutu yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur. Namun, tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar di dalam kota dan pasukan Sekutu melakukan terhadap perkampungan di sekitar Ambarawa. Pasukan TKR di Ambarawa bersama dengan pasukan TKR dari Boyolali, Salatiga, dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda, sehingga membentuk garis medan di sepanjang rel kereta api yang membelah kota Ambarawa.
Sedangkan dari arah Magelang pasukan TKR Divisi V/Purwokerto di bawah pimpinan Imam Androngi melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945. Serangan itu bertujuan untuk memukul mundur pasukan Sekutu yang bertahan di desa Pingit. Pasukan yang dipimpin oleh Imam Androngi herhasil menduduki desa Pingit dan melakukan perebutan terhadap desa-desa sekitarnya. Batalion Imam Androngi meneruskan gerakan pengejarannya. Kemudian Batalion Imam Androngi diperkuat tiga hatalion dari Yogyakarta, yaitu Batalion 10 di bawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sardjono, dan batalion Sugeng.
Akhirnya musuh terkepung, walaupun demikian, pasukan musuh mencoba untuk menerobos kepungan itu. Caranya adalah dengan melakukan gerakan melambung dan mengancam kedudukan pasukan TKR dengan menggunakan tank-tank dari arah belakang. Untuk mencegah jatuhnya korban, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan bantuan Resimen Dua yang dipimpin oleh M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Onie Sastroatmojo, dan batalion dari Yogyakarta mengakibatkan gerakan musuh berhasil ditahan di desa Jambu. Di desa Jambu, para komandan pasukan mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.
Rapat itu menghasilkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran, bertempat di Magelang. Sejak saat itu, Ambarawa dibagi atas empat sektor, yaitu sektor utara, sektor timur, sektor selatan, dan sektor barat. Kekuatan pasukan tempur disiagakan secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan dari Purwokerto Letnan Kolonel Isdiman gugur maka sejak saat itu Kolonel Sudirman Panglima Divisi V di Purwokerto mengambil alih pimpinan pasukan. Situasi pertempuran menguntungkan pasukan TKR.
Musuh terusir dari Banyubiru pada tanggal 5 Desember
1945. Setelah mempelajari situasi pertempuran, pada tanggal 11 Desember 1945
Kolonel Sudirman mengambil prakarsa untuk mengumpulkan setiap komandan sektor.
Dalam kesimpulannya dinyatakan bahwa musuh telah terjepit sehingga perlu
dilaksanakan serangan yang terakhir. Rencana serangan disusun sebagai berikut.
- Serangan
dilakukan serentak dan mendadak dari semua sector.
- Setiap
komandan sektor memimpin pelaksanaan serangan.
- Pasukan
badan perjuangan (laskar) menjadi tenaga cadangan.
- Hari
serangan adalah 12 Desember 1945, pukul 04.30.
Akhir dari Pertempuran Ambarawa terjadi
pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, pasukan TKR bergerak menuju sasarannya
masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung pasukan
musuh yang ada di dalam kota. Pertahanan musuh yang terkuat diperkirakan di
Benteng Willem yang terletak di tengah-tengah kota Ambarawa. Kota Ambarawa
dikepung selama empat hari empat malam. Musuh yang merasa kedudukannya terjepit
berusaha keras untuk mundur dari medan pertempuran. Pada tanggal 15 Desember
1945, musuh meninggalkan kota Ambarawa dan mundur ke Semarang.
3.
Sejarah Bandung Lauutan Api
terjadi karena pasukan Inggris mulai memasuki kota
Bandung sejak pertengahan bulan Oktober 1945. Di Bandung, pasukan Inggris dan
NICA melakukan teror terhadap rakyat sehingga mengakibatkan terjadinya
pertempuran. Menjelang bulan November 1945, pasukan NICA semakin
merajalela di Bandung. Setelah masuknya tentara Inggris yang berasal dari
satuan NICA memanfaatkannya untuk mengembalikan kekuasaannya atas kota
Bandung. Hal ini menyebabkan semangat juang rakyat dan para pemuda yang
tergabung dalam TKR dan badan-badan perjuangan lainnya semakin berkobar.
Pertempuran
besar dan kecil terus berlangsung di Bandung. Malapetaka lain juga terjadi di
Bandung, yaitu dengan jebolnya bendungan Sungai Cikapundung yang menimbulkan
bencana banjir besar di kota Bandung. Peristiwa itu terjadi pada malam hari
tanggal 25 November 1945. Pada saat itu kota Bandung dibagi menjadi dua, yaitu
pasukan Sekutu menduduki daerah Bandung Utara dan Bandung Selatan menjadi
daerah Republik Indonesia. Jebolnya tanggul sungai itu dikaitkan dengan aksi
teror yang dilakukan oleh NICA sehingga menimbulkan amarah rakyat dan mereka
melakukan aksi pembalasan.
Sesuai dengan kebijakan politik diplomasi, pihak Republik Indonesia mengosongkan daerah Bandung Utara. Namun, karena Sekutu menuntut pengosongan sejauh sebelas kilometer dari Bandung Selatan, akibatnya meletus pertempuran dan aksi bumi hangus di segenap penjuru kota. Kota Bandung terbakar hebat dari batas timur Cicadas sampai dengan batas barat Andir. Satu juta jiwa penduduk kota Bandung menyingkir ke luar kota. Pada tanggal 23 dan 24 Maret 1946 mereka meninggalkan kota Bandung yang telah menjadi lautan api. Peristiwa itu diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Tokoh pejuang dalam pertempuran Bandung itu, di antaranya: Aruji Kertawinata, Sutoko, Nawawi Alib, Kolonel Hidayat, Oto Iskandardinata, dan Kolonel A.H. Nasution (Panglima Divisi Jawa Barat).
Sementara
itu, benteng NICA yang terletak di Dayeuh Kolot, Bandung Selatan dikepung oleh
para pejuang Bandung sebagai taktik menghancurkan daerah itu. Dalam pertempuran
itu, seorang pemuda yang bernama Toha siap berjibaku untuk menghancurkan gudang
mesiu dengan membawa alat peledak. Toha menyelundup dan meledakkan diri
sehingga hancurlah gudang mesiu milik NICA. Toha gugur dalam menjalankan
tugasnya untuk bangsa dan Negara. Peristiwa tersebut difilmkan dengan judul
Toha Pahlawan Bandung Selatan. Sebagai peringatan kejadian ini juga telah
dibangun tugu Bandung lautan api.
4. Pertempuran Margarana
Pertempuran
Margarana dipicu pada tanggal 2 dan 3 Maret 1946, ketika itu lebih kurang 2.000
orang tentara Belanda mendarat di Pulau Bali. Mereka diikuti oleh tokoh-tokoh Bali
yang pro terhadap Belanda. Ketika Belanda mendarat di Pulau Bali, pimpinan
Laskar Bali Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, sedang menghadap ke Markas
Tertinggi TKR di Yogyakarta. Kedatangannya ke Yogyakarta bertujuan membicarakan
masalah pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara untuk menghadapi Belanda.
Ketika kembali dari Yogyakarta, I Gusti Ngurah Rai menemukan pasukannya dalam keadaan porak-poranda akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda. I Gusti Ngurah Rai berusaha untuk mengumpulkan kembali pasukannya yang telah porak-poranda. Sementara itu, Belanda terus membujuk Ngurah Rai agar mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Namun ajakan itu ditolaknya, penolakan itu terlihat dari isi surat balasannya kepada Belanda. Di antaranya Ngurah Rai menyatakan bahwa: "Bali bukan tempat untuk perundingan dan perundingan merupakan hak dari pemimpin kami di pusat.
Ketika kembali dari Yogyakarta, I Gusti Ngurah Rai menemukan pasukannya dalam keadaan porak-poranda akibat serangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda. I Gusti Ngurah Rai berusaha untuk mengumpulkan kembali pasukannya yang telah porak-poranda. Sementara itu, Belanda terus membujuk Ngurah Rai agar mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Namun ajakan itu ditolaknya, penolakan itu terlihat dari isi surat balasannya kepada Belanda. Di antaranya Ngurah Rai menyatakan bahwa: "Bali bukan tempat untuk perundingan dan perundingan merupakan hak dari pemimpin kami di pusat.
Di samping itu, Ngurah Rai, juga menyatakan bahwa: "Pulau Bali bergolak karena kedata pasukan Belanda. Dengan demikian, apabila ingin Pulau Bali dan damai, Belanda harus angkat kaki dari Pulau Bali".
Ketika Ngurah Rai berhasil menghimpun dan mempersatukan ker pasukannya, pada tanggal l 8 November 1946 diIakukan serangan terhadap markas Belanda yang ada di kota Tabanan. Markas Belanda digempur habis-habisan. Dalam pertempuran itu, pasukan Ngurah Rai meraih kemenangan yang gemilang dan satu Detasemen Polisi Belanda lengkap dengan senjatanya menyerah. Setelah itu pasukan mundur ke arau utara kota Tabanan dan memusatkan perjuangan di desa Margarana.
Akibat kekalahan tersebut pihak Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya termasuk pesawat tempur untuk menyerang daerah Margarana pada tanggal 20 November 1946. Terjadilah pertempuran yang dahsyat, dalam pertempuran tersebut Ngurah Rai menyerukan perang puputan (perang habis-habisan). Namun sayang pada peristiwa tersebut I Gusti Ngurah Rai dan pasukan gugur di medan perang. Pertempuan itu sekarang lebih dikenal dengan perang puputan yang diperingati tanggal 20 November setiap tahunnya diperingati sebagai hari Pahlawan Margarana oleh rakyat Bali.
5.
Peristiwa 10 november di
surabaya
Peristiwa di Surabaya itu
merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan Sekutu
dengan bendera AFNEI di Jawa Timur. Khusus untuk Surabaya, Sekutu menempatkan
Brigade 49, yaitu bagian dari divisi ke-23 Sekutu. Brigade 49 dipimpin
Brigjen A.W.S. Mallaby yang mendarat 25 Oktober 1945. Pada mulanya
pemerintah Jawa Timur enggan menerima kedatangan Sekutu. Kemudian dibuat
kesepakatan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo dengan Brigjen
A.W.S. Mallaby. Kesepakatan itu adalah sebagai berikut.
- Inggris berjanji tidak mengikutsertakan angkatan
perang Belanda
- menjalin kerja sama kedua pihak untuk menciptakan
kemanan dan ketentraman
- akan dibentuk kontrak biro
- Inggris akan melucuti senjata Jepang
Dengan kesepakatan itu, Inggris
diperkenankan memasuki kota Surabaya. Ternyata pihak Inggris ingkar
janji. Itu terlihat dari penyerbuan penjara Kalisosok 26
Oktober 1945. Inggris menduduki pangkalan udara Tanjung Perak
tanggal 27 Oktober 1945, serta menyebarkan pamflet yang
berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan
senjatasenjata mereka.
Kontrak senjata antar Sekutu dan
rakyat Surabaya sudah terjadi sejak 27 Oktober 1945. Karena terjadi kontak
senjata yang dikhawatirkan meluas, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden
Moh. Hatta mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil
perundingan sebagai berikut.
- Surat-surat selebaran/pamflet dianggap tidak
berlaku
- Serikat mengakui keberadaan TKR dan Polisi
Indonesia
- Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh
Serikat, sedangkan kampkamp tawanan dijaga bersama-sama Serikat dan TKR
- Tanjung Perak dijaga bersama TKR, Serikat, dan
Polisi Indonesia
Walaupun sudah terjadi
perundingan, akan tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya tetap terjadi
bentrok senjata antara Serikat dan rakyat Surabaya yang bersenjata.
Pertempuran seru terjadi di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah.
Gedung itu dikepung oleh para pemuda yang menuntut agar pasukan A.W.S.
Mallaby menyerah. Tuntutan para pemuda itu ditolak pasukan Serikat. Karena
begitu gencarnya pertempuran di sana, akibatnya terjadi kejadian
fatal, yaitu meninggalnya A.W.S. Mallany tertusuk bayonet dan bambu
runcing. Peristiwa ini terjadi tanggal 30 Oktober 1945.
6. Sejarah Pertempuran 10 November
1945 di Surabaya
Dengan meninggalnya A.W.S.
Mallaby, pihak Inggris memperingatkan rakyat Surabaya dan meminta
pertanggungjawaban. Mereka mengancam agar rakyat Surabaya menyerah dan
akan dihancurkan apabila tidak mengindahkan seruan itu. Ultimatum Inggris
bermakna ancaman balas dendam atas pembunuhan A.W.S. Mallaby disertai
perintah melapor ke tempat-tempat yang ditentukan.
Disamping itu, pemuda bersenjata
harus menyerahkan senjatanya. Ultimatum Inggris itu secara resmi ditolak
rakyat Surabaya melalui pernyataan Gubernur Soerjo.
Karena penolakan itu, pertempuran
tidak terhindarkan lagi, maka pecahlah pertempuran pada tanggal 10
November 1945. Sekutu mengerahkan pasukan infantri dengan senjata-senjata
berat. Peristiwa heroik ini berlangsung hampir tiga minggu. Dalam
pertempuran tersebut, melalui siaran radio, Bung Tomo membakar semangat
arek-arek Suroboyo. Pertempuran yang memakan korban banyak
dari pihak bangsa Indonesia ini diperingati sebagai
Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Peringatan
itu merupakan komitmen bangsa Indonesia yang berupa penghargaan
terhadap kepahlawanan rakyat Surabaya sekaligus mencerminkan
tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia.
Borgata Hotel Casino and Spa - Dr.MCD
BalasHapusBorgata 영주 출장마사지 Hotel Casino and Spa · More to 의왕 출장마사지 Come. · Complimentary WiFi; Complimentary WiFi; Complimentary breakfast; Casino 광주광역 출장샵 credit Address: 4 제천 출장안마 Borgata Way, Atlantic City, NJ 08401Phone: 1-609-4700 김제 출장샵